/Sambutan Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam acara Kraton Bershalawat bersama Darul Hasyimi

Sambutan Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam acara Kraton Bershalawat bersama Darul Hasyimi

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Yang terhormat Habib Muhammad Luthfy bin Yahya, yang pada malam hari ini diwakilkan oleh Habib Muhammad Bahauddin bin Yahya,

Yang kami hormati Bapak Habib Muhammad Zain Rifqi bin Ahmad Al Jailani, Dan juga segenap jamaah majis shalawat yang dirahmati Allah.

Sambutan dari Sri Sultan Hamengkubuwono X yang dibacakan oleh GKR Mangkubumi dalam acara Kraton Bershalawat bersama Darul Hasyimi di Kagungan Dalem Masjid Gedhe Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat pada hari Senin, 28 Oktober 2019.

Segala puja-puji hanya ditujukan ke hadapan Allah SWT, disertai shalawat dan salam ke hadapan Nabi dan RasulNya Muhammad SAW, serta keluarga dan para sahabat.

Malam ini kita pantas bersyukur, karena bersama-sama dengan Jamaah Majlis Shalawat Jawa Tingkat Nasional II yang dikemas dengan tajuk Kraton Bershalawat bertempat di Masjid Gedhe Kagungan Kraton, tepat pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91 pada tahun 2019 pada malam hari ini. Sehingga tepat momentumnya jika selain membawa dakwah untuk mempererat tali silaturahmi, ukhuwah Islamiyah juga untuk membangun ukhuwah wathaniyah dalam rangka memperkokoh persaudaraan keIndonesiaan kita.

Rasa syukur itu kian bermakna karena kita dapat bershalawat bersama keturunan Rasulullah yang dicintai yaitu Habib Muhammad Luthfy bin Yahya yang pada malam hari ini diwakili oleh Habib Muhammad Bahauddin bin Yahya dan juga Habib Muhammad Zain Rifqi bin Ahmad Al Jailani. Sesuai dengan nama yang disandangnya, Habib, maka bisa diharapkan kesan yang akan kita bawa pulang nanti adalah jalan menuju kebaikan sebagai anugerah Allah SWT. Untuk itu ijinkan mengungkapkan rasa terima kasih yang dalam disertai penghargaan yang tingggi, teriring doa semoga beliau bertiga selalu dikaruniai olehNya kesehatan dan kekuatan untuk syiar Islam terutama kepada kalangan bawah tentang Islam yang penuh kedamaian yang Rahmatan lil ‘Alamin.

Festival Shalawat Jawa II tahun 2019 merupakan kelanjutan dari Festival Shalawat Jawa I tahun 2028 yang telah sukses diselenggarakan oleh Majlis Ta’lim Darul Hasyimi Pengda Yogyakarta. Festival Shalawat Jawa kali ini kembali mengusung tema “Dengan Berpadunya Shalawat dan Seni Budaya Kita Tanamkan Kecintaan Pemuda terhadap Budaya Nusantara untuk Memperkuat Jati Diri Bangsa dalam Menjaga Keutuhan NKRI”. Tema ini diambil dengan dasar bahwa shalawat merupakan aset seni budaya dan tradisi yang dimiliki Indonesia. Shalawat menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa dengan cara menumbuhkan rasa cinta tanah air. Karena dalam shalawat selalu dipupuk rasa cinta kepada Rasulullah Muhammad SAW. Adanya tradisi kesenian shalawat ini merupakan bukti bahwa keberadaan Islam tidak menggerus budaya lokal tapi justru mengisi, membaur dan saling menguatkan satu sama lain. Atas dasar kecintaan ini akan semakin menambah nilai-nilai keimanan dan ketakwaan melalui cara pelestarian budaya bangsa warisan para leluhur dan pendiri NKRI. Sehingga generasi penerus semakin terpacu untuk menggali sejarah Islam terutama kepada para Auliya dalam perjuangan bangsa dalam menumbuhkembangkan nilai-nilai moral kepahlawanan, sehingga memiliki keinginan kuat untuk menjaga stabilitas dan keharmonisan bangsa dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika untuk menjaga keutuhan NKRI.

Festival Shalawat Jawa ini diselenggarakan untuk mengangkat kembali dan menggali berbagai corak budaya bernuansa islami, khususnya shalawat jawa dalam bentuk kompetisi yang bertujuan memberi ruang dan panggung seluas-luasnya bagi kesenian shalawat jawa agar lebih dikenal kembali di kalangan pemuda.

Festival Shalawat ini juga kembali menampilkan Shalawat Tasbih Hadiningrat sebagai lagu wajib yang merupakan karya Sri Sultan Hamengkubuwono I yang hingga saat ini masih ditampilkan oleh Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat pada acara-acara tertentu.

Bagi para para da’i, guru serta oara dosen saya berharap agar dalam setiap khutbah dan pengajaran atau perkuliahan barang lima menit mau menyisipkan butir-butir ajaran kebangsaan misalnya ajakan berjihad memerangi kemiskinan, kebodohan dan keterpurukan ataupun sekedar mengutip sebaris kata mutiara ‘founding fathers’ dalam usaha menjadi Indonesia.

GKR Mangkubumi

Dalam bentuk berdakwah hendaknya kita memviralkan wejangan Walisongo bahwa untuk menjadi islam sejati harus berguru, mengkaji dan bermusyawarah melalui dialog. Konsep syiar walisongo itu amat bersahaja menuruti empat dasar tuntunan Rasul : alasan yang tepat, berkata bijak penuh hikmat, cara santun dan mulia, dengan siasat yang bijak, rasa-rasanya sudah kurang dikenal dalam vocabulary da’i dan ustadz masa kini, kecuali oleh ustadz-ustadz mufassir seperti para Habib yang hadir di sini. Mengkaji, menelisih atau tabayun menjadi penting sebagai prinsip kehati-hatian dalam mengelola media sosial. Cek dan ricek kebenaran berita dan sumber beritanya perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum di grup share dan friend share. Jika kebiasaan perang ujaran kebencian ini terus menerus direproduksi saya khawatir kita akan yang pendek akal bangsa gossip yang jauh dari tujuan konstitusi untuk mencerdaskan bangsa. Di jaman Rasulullah memang membahas politik negara di perkenankan di dalam masjid namun kini setelah umat islam berada nyaris di semua partai dan golongan masyarakat melalui politisasi agama sebagai alat politik kini dilarang karena jelas termuat dalam peraturan perundang-uandangan. Dengan hikmah seperti itulah hendaknya kita syukuri malam anugerah festival shalawat jawa tingkat nasional ini yang akan segera kita akhiri malam ini seraya merenungi makna terdalam tausiyah dan disertai doa penutup dari Habib Muhammad Bahauddin bin Yahya yang dirahmati Allah.

Kiri : Habib Bahauddin, Kanan : Habib Zain Rifqi

Akhirul Kalam marilah kita sama-sama mendoakan semoga kita semua memperoleh ridho Allah SWT sehingga dapat menunaikan misi kehidupan kita masing-masing dengan penuh tanggung jawab di jalan lurusNya dengan iman dan takwa dunia akherat. Amin. Amin. Amin. Yaa Rabbal ‘Alamin. Matur nuwun.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.